Salah satu alat paling berpengaruh yang tetap relevan hingga hari ini adalah Ansoff Matrix. Dikembangkan oleh seorang matematikawan dan manajer bisnis terkemuka, model ini memberikan panduan visual bagi perusahaan untuk memutuskan apakah mereka harus fokus pada produk lama, produk baru, pasar lama, atau pasar yang benar-benar baru. Dengan memahami alat ini, Anda dapat menyusun rencana pertumbuhan yang lebih terukur dan logis.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai kontribusi Igor Ansoff dalam manajemen strategis serta bagaimana Anda dapat menggunakan matriks ciptaannya untuk mengakselerasi bisnis Anda. Kita akan membedah setiap elemen secara sistematis, memberikan contoh konkret, dan menyusun langkah-langkah praktis agar strategi ini dapat segera diimplementasikan dalam konteks pasar modern.
Mengenal Igor Ansoff dan Sejarah Matriks Pertumbuhan
Biografi Singkat Igor Ansoff
Igor Ansoff sering dijuluki sebagai bapak manajemen strategis. Lahir di Rusia dan besar di Amerika Serikat, ia menggabungkan keahlian matematika dengan wawasan bisnis yang tajam untuk menciptakan model-model yang membantu pemimpin perusahaan mengambil keputusan sulit. Melalui pemikiran Igor Ansoff, dunia bisnis mulai melihat pertumbuhan bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari analisis sistematis terhadap peluang yang ada di pasar.
Karya monumentalnya, “Corporate Strategy” yang diterbitkan pada tahun 1965, memperkenalkan dunia pada konsep perencanaan formal. Ansoff percaya bahwa manajemen harus proaktif dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis. Kontribusinya tidak hanya terbatas pada matriks pertumbuhan, tetapi juga pada pemahaman mendalam mengenai sinergi dan kemampuan strategis perusahaan dalam menghadapi turbulensi pasar.
Konsep Awal Terciptanya Matriks
Matriks ini pertama kali dipublikasikan dalam artikel Harvard Business Review pada tahun 1957 dengan judul “Strategies for Diversification”. Pada awalnya, model ini dirancang untuk menjawab pertanyaan sederhana namun mendalam: “Bagaimana sebuah perusahaan bisa tumbuh?”. Ansoff menyederhanakan kompleksitas pertumbuhan menjadi dua dimensi utama: produk dan pasar.
Dengan menyilangkan kedua dimensi ini, terciptalah empat kuadran strategis. Fokus utama dari model ini adalah membantu manajer mengidentifikasi risiko yang terkait dengan setiap arah pertumbuhan. Semakin jauh perusahaan bergerak dari produk dan pasar yang sudah mereka kenal, semakin besar risiko yang harus dihadapi, namun potensi imbalannya pun biasanya semakin tinggi.
Relevansi di Era Digital
Meskipun diciptakan lebih dari setengah abad yang lalu, Ansoff Matrix tetap menjadi alat yang sangat relevan di era digital. Perusahaan rintisan (startup) hingga korporasi multinasional masih menggunakan model ini untuk menentukan apakah mereka harus meningkatkan penetrasi di pasar aplikasi seluler atau melakukan diversifikasi ke layanan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Di tengah perubahan teknologi yang cepat, kerangka kerja ini memberikan stabilitas dalam berpikir. Ia memaksa pengambil keputusan untuk mengevaluasi aset inti mereka sebelum melompat ke tren baru. Dengan demikian, warisan intelektual Igor Ansoff terus menjadi kompas bagi para pengusaha di seluruh dunia dalam menavigasi ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga: Download Template Framework Bisnis Canvas PDF Gratis
Pemahaman Dasar Empat Kuadran Ansoff Matrix
Strategi Penetrasi Pasar
Penetrasi pasar adalah kuadran di mana perusahaan berusaha tumbuh menggunakan produk yang sudah ada di pasar yang sudah mereka kuasai. Ini dianggap sebagai strategi dengan risiko paling rendah karena perusahaan sudah memahami dinamika pelanggan dan pesaing di area tersebut. Fokus utamanya adalah meningkatkan pangsa pasar dengan menarik pelanggan baru atau mendorong pelanggan lama untuk membeli lebih banyak.
Dalam praktiknya, strategi ini sering melibatkan kampanye pemasaran yang agresif, program loyalitas, atau penyesuaian harga. Perusahaan mencoba “menggali lebih dalam” pada ceruk yang sudah ada. Keberhasilan di kuadran ini sangat bergantung pada efisiensi operasional dan kemampuan untuk mengungguli pesaing langsung dalam hal nilai pelanggan.
Strategi Pengembangan Pasar
Pengembangan pasar terjadi ketika sebuah perusahaan mencoba membawa produk lama mereka ke pasar yang benar-benar baru. Pasar baru ini bisa berupa wilayah geografis yang berbeda, segmen pelanggan yang baru, atau saluran distribusi yang belum pernah digunakan sebelumnya. Strategi ini membawa risiko lebih tinggi daripada penetrasi pasar karena adanya ketidaktahuan tentang karakteristik pasar baru tersebut.
Misalnya, sebuah merek pakaian lokal yang sukses di Jakarta memutuskan untuk membuka gerai di pasar internasional seperti Tokyo. Meskipun produknya tetap sama, perusahaan harus beradaptasi dengan budaya, regulasi, dan preferensi konsumen di Jepang. Kunci kesuksesan di sini adalah riset pasar yang mendalam dan kemampuan adaptasi strategi pemasaran lokal.
Strategi Pengembangan Produk
Dalam kuadran pengembangan produk, perusahaan menciptakan produk baru untuk dijual kepada basis pelanggan atau pasar yang sudah ada. Strategi ini sering digunakan oleh perusahaan teknologi yang secara rutin merilis versi terbaru atau produk pelengkap untuk mempertahankan minat konsumen mereka. Risiko di sini terletak pada proses inovasi dan kemungkinan produk baru tidak diterima dengan baik oleh pasar yang sudah dikenal.
Agar berhasil, perusahaan perlu memiliki tim riset dan pengembangan (R&D) yang kuat. Mereka harus mampu mendengarkan umpan balik pelanggan dan mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi. Dengan menawarkan solusi baru kepada orang-orang yang sudah percaya pada merek Anda, Anda memanfaatkan ekuitas merek untuk mengurangi hambatan masuk bagi produk baru tersebut.
Baca Juga: Framework Bisnis BSG Matrix untuk Portofolio Optimal
Strategi Penetrasi Pasar untuk Dominasi Bisnis
Meningkatkan Pangsa Pasar dengan Agresif
Strategi penetrasi pasar menuntut perusahaan untuk menjadi lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan frekuensi penggunaan produk oleh konsumen saat ini. Misalnya, sebuah merek pasta gigi mungkin mengedukasi konsumen tentang pentingnya menyikat gigi tiga kali sehari, bukan hanya dua kali, untuk meningkatkan volume penjualan tanpa harus mencari pelanggan baru.
Selain itu, perusahaan dapat mencoba merebut pelanggan dari pesaing. Hal ini sering dilakukan melalui perbandingan produk yang tajam atau penawaran eksklusif bagi mereka yang bersedia beralih merek. Di pasar yang sudah jenuh, penetrasi pasar seringkali menjadi “perang” efisiensi di mana perusahaan dengan biaya produksi terendah dan jangkauan distribusi terluas akan keluar sebagai pemenang.
Program Loyalitas dan Retensi Pelanggan
Mempertahankan pelanggan jauh lebih murah daripada mendapatkan pelanggan baru. Oleh karena itu, dalam Ansoff Matrix, penetrasi pasar sangat menekankan pada loyalitas. Program poin, diskon khusus member, dan layanan purna jual yang luar biasa adalah instrumen utama dalam strategi ini. Dengan memperkuat ikatan emosional dan transaksional, perusahaan memastikan bahwa pelanggan tidak akan melirik pesaing.
Engagement yang berkelanjutan melalui media sosial dan buletin email juga membantu menjaga merek tetap berada di ingatan konsumen (top-of-mind). Ketika pelanggan merasa dihargai, mereka cenderung menjadi advokat merek yang secara sukarela merekomendasikan produk Anda kepada orang lain, yang secara tidak langsung meningkatkan penetrasi pasar Anda.
Strategi Harga Kompetitif dan Promosi
Penyesuaian harga sering kali menjadi senjata utama dalam penetrasi pasar. Diskon jangka pendek, bundling produk (beli satu gratis satu), atau penurunan harga permanen dapat menarik konsumen yang sensitif terhadap harga. Namun, strategi ini harus dijalankan dengan hati-hati agar tidak merusak citra merek atau memicu perang harga yang merugikan semua pihak.
Promosi yang kreatif juga memainkan peran penting. Menggunakan influencer atau kampanye iklan yang viral dapat menciptakan lonjakan permintaan di pasar yang sudah ada. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan visibilitas produk sehingga setiap calon pembeli di pasar tersebut selalu mempertimbangkan produk Anda sebagai pilihan utama.
Baca Juga: Perencanaan Kelangsungan Bisnis: Strategi Vital untuk UMKM
Ekspansi Melalui Pengembangan Pasar Baru
Ekspansi Geografis ke Wilayah Baru
Salah satu bentuk paling umum dari pengembangan pasar dalam Ansoff Matrix adalah ekspansi geografis. Jika sebuah bisnis telah mencapai titik jenuh di satu kota atau negara, langkah logis berikutnya adalah mencari wilayah baru. Ini bisa berarti ekspansi dari tingkat lokal ke nasional, atau dari nasional ke pasar ekspor internasional.
Namun, ekspansi ini bukan tanpa tantangan. Perusahaan harus mempertimbangkan logistik, rantai pasok, dan perbedaan hukum di wilayah baru. Seringkali, perusahaan menjalin kemitraan dengan distributor lokal atau menggunakan model waralaba (franchise) untuk meminimalkan risiko modal dan memanfaatkan pengetahuan lokal yang sudah ada.
Menyasar Segmen Pelanggan Baru
Pengembangan pasar juga bisa berarti mengubah fokus dari satu grup demografis ke grup lainnya. Misalnya, sebuah merek kosmetik yang selama ini fokus pada wanita dewasa mungkin mulai meluncurkan kampanye yang menargetkan remaja pria dengan produk yang sama namun dengan kemasan dan pesan yang berbeda.
Proses ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang psikografi dan perilaku konsumen baru. Perusahaan harus mampu menjawab pertanyaan: “Mengapa kelompok orang ini membutuhkan produk kami?”. Dengan menyesuaikan saluran komunikasi, sebuah produk yang sama dapat memiliki nilai guna yang berbeda bagi segmen pasar yang berbeda pula.

Memanfaatkan Saluran Distribusi Baru
Di era digital, pengembangan pasar sering kali melibatkan perpindahan dari toko fisik ke platform e-commerce, atau sebaliknya. Dengan membuka toko online, sebuah bisnis ritel kecil dapat menjangkau pelanggan di seluruh pelosok negeri yang sebelumnya tidak terjangkau oleh lokasi fisik mereka.
Selain e-commerce, memanfaatkan platform media sosial seperti TikTok Shop atau Instagram Shopping juga merupakan bentuk pengembangan pasar. Ini memungkinkan produk ditemukan oleh audiens yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di ruang digital. Memilih saluran distribusi yang tepat adalah kunci untuk menjangkau pasar baru secara efektif tanpa harus mengubah produk inti.
Baca Juga: Tata Kelola Framework Bisnis GCG: Kunci Sukses Perusahaan
Inovasi dengan Strategi Pengembangan Produk
Riset dan Pengembangan yang Berkelanjutan
Strategi pengembangan produk mengharuskan perusahaan untuk terus berinovasi agar tetap relevan. Hal ini biasanya melibatkan investasi yang signifikan dalam Riset dan Pengembangan (R&D). Perusahaan harus mampu mengidentifikasi tren masa depan dan menciptakan solusi sebelum pelanggan menyadari bahwa mereka membutuhkannya.
Inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang benar-benar baru dari nol. Seringkali, ini tentang meningkatkan fitur yang sudah ada, membuat produk lebih cepat, lebih kecil, atau lebih ramah lingkungan. Empathy map pelanggan sering digunakan dalam tahap ini untuk memahami kesulitan yang dialami pengguna dengan produk saat ini, sehingga produk baru dapat menjadi solusi yang tepat guna.
Ekstensi Lini Produk (Product Line Extension)
Salah satu cara paling aman dalam pengembangan produk adalah dengan menambah variasi pada lini produk yang sudah sukses. Misalnya, sebuah perusahaan minuman yang sukses dengan rasa cokelat mungkin meluncurkan varian rasa matcha atau kopi. Pelanggan yang sudah menyukai merek tersebut kemungkinan besar akan mencoba varian baru ini karena rasa percaya yang sudah terbentuk.
Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk menangkap lebih banyak “ruang rak” di toko dan memenuhi preferensi konsumen yang beragam. Namun, perusahaan harus waspada terhadap risiko kanibalisasi, di mana produk baru justru mengurangi penjualan produk lama alih-alih menambah total penjualan secara keseluruhan.
Integrasi Teknologi Baru dalam Produk
Di masa kini, pengembangan produk sering kali melibatkan integrasi teknologi digital ke dalam produk fisik (Internet of Things). Misalnya, perusahaan jam tangan tradisional yang mengembangkan smartwatch. Ini adalah langkah strategis untuk tetap kompetitif di pasar yang mulai beralih ke fungsionalitas digital.
Integrasi teknologi ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pelanggan. Dengan menambahkan fitur seperti konektivitas aplikasi, pemantauan kesehatan, atau kontrol suara, perusahaan dapat membenarkan harga yang lebih tinggi dan memperkuat posisi mereka sebagai pemimpin inovasi di mata pelanggan setianya.
Baca Juga: Cara Audit Internal Bisnis Efektif untuk Pertumbuhan Optimal
Diversifikasi sebagai Langkah Pertumbuhan Berisiko Tinggi
Diversifikasi Terkait (Related Diversification)
Diversifikasi terkait terjadi ketika sebuah perusahaan memasuki pasar baru dengan produk baru yang masih memiliki hubungan dengan kompetensi inti mereka. Misalnya, sebuah perusahaan produsen mobil yang mulai memproduksi sepeda listrik. Meskipun produk dan pasarnya baru, perusahaan tersebut masih dapat memanfaatkan pengetahuan mereka tentang manufaktur, mesin, dan distribusi otomotif.
Strategi ini sering disebut sebagai diversifikasi konsentris. Keuntungannya adalah adanya sinergi operasional dan pemasaran. Perusahaan dapat menggunakan reputasi merek yang sudah ada untuk memberikan kredibilitas pada unit bisnis baru tersebut, sehingga risiko kegagalan dapat sedikit ditekan dibandingkan dengan masuk ke bidang yang benar-benar asing.
Diversifikasi Tidak Terkait (Unrelated Diversification)
Ini adalah strategi yang paling berisiko dalam Ansoff Matrix. Di sini, perusahaan memasuki bisnis yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan produk atau pasar mereka saat ini. Contoh klasiknya adalah perusahaan konglomerasi yang memiliki bisnis di bidang perhotelan, media, dan pertambangan sekaligus.
Motivasi utama dari strategi ini biasanya adalah penyebaran risiko investasi. Jika satu industri sedang lesu, diharapkan industri lainnya tetap stabil atau tumbuh. Namun, tantangannya adalah manajemen seringkali tidak memiliki keahlian mendalam di bidang baru tersebut, sehingga sangat bergantung pada manajer profesional atau akuisisi perusahaan yang sudah mapan di bidang tersebut.
Manajemen Risiko dalam Diversifikasi
Mengingat tingkat risikonya yang tinggi, diversifikasi memerlukan penilaian risiko yang sangat ketat. Igor Ansoff menekankan pentingnya menganalisis “kemampuan strategis” sebelum melakukan diversifikasi. Perusahaan harus jujur pada diri sendiri tentang apakah mereka memiliki sumber daya finansial dan manajerial yang cukup untuk mendukung bisnis baru tersebut.
Langkah mitigasi risiko biasanya melibatkan pilot project atau kemitraan strategis (joint venture). Dengan tidak langsung terjun sepenuhnya, perusahaan dapat “mengetes air” terlebih dahulu. Jika hasilnya positif, investasi dapat ditingkatkan secara bertahap. Diversifikasi yang gagal sering kali disebabkan oleh ambisi yang terlalu besar tanpa didukung oleh pemahaman operasional yang memadai.
Baca Juga: Prinsip Pareto Bisnis: Optimasi 80/20 untuk Pertumbuhan Maksimal
Cara Menggunakan Ansoff Matrix Secara Sistematis
Langkah 1: Analisis Posisi Saat Ini
Sebelum menentukan arah pertumbuhan, Anda harus memahami di mana posisi bisnis Anda sekarang. Evaluasi kinerja produk-produk utama Anda dan seberapa besar pangsa pasar yang Anda miliki. Gunakan data penjualan, umpan balik pelanggan, dan analisis kompetitor untuk mendapatkan gambaran yang jujur.
Tanyakan pada tim Anda: “Apakah kita masih bisa tumbuh di pasar saat ini dengan produk yang ada?”. Jika jawabannya ya, maka penetrasi pasar harus menjadi prioritas utama. Namun, jika pasar sudah jenuh, maka Anda harus mulai mempertimbangkan kuadran lain dalam matriks untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Langkah 2: Evaluasi Opsi Pertumbuhan
Setelah mengetahui posisi awal, mulailah memetakan peluang di ketiga kuadran lainnya. Lakukan brainstorming untuk ide pengembangan produk baru atau identifikasi wilayah geografis dan segmen pelanggan yang belum tergarap. Jangan hanya terpaku pada satu opsi; buatlah daftar beberapa kemungkinan strategi.
Gunakan kriteria penilaian seperti potensi pendapatan, kemudahan implementasi, dan kesesuaian dengan misi perusahaan. Pada tahap ini, Ansoff Matrix berfungsi sebagai alat penyaring untuk memisahkan ide yang fantastis namun tidak realistis dengan peluang yang benar-benar dapat dieksekusi oleh organisasi Anda.
Langkah 3: Penilaian Risiko dan Alokasi Sumber Daya
Setiap pilihan dalam matriks memiliki profil risiko yang berbeda. Buatlah analisis dampak jika strategi tersebut gagal. Berapa banyak modal yang akan hilang? Bagaimana dampaknya terhadap reputasi merek utama? Pastikan Anda memiliki rencana cadangan untuk setiap skenario terburuk.
Setelah risiko dinilai, alokasikan sumber daya (uang, waktu, dan manusia) secara proporsional. Strategi penetrasi pasar mungkin membutuhkan lebih banyak anggaran iklan, sementara pengembangan produk membutuhkan lebih banyak waktu dari tim teknis. Pastikan alokasi ini sejalan dengan prioritas strategis yang telah ditetapkan agar eksekusi berjalan lancar.

Baca Juga: Cara Audit Framework Bisnis Internal Efektif & Strategis
Kelebihan dan Kekurangan Model Igor Ansoff
Keunggulan dalam Perencanaan Strategis
Kelebihan utama dari model yang dikembangkan oleh Igor Ansoff adalah kesederhanaannya. Ia mampu menyederhanakan pilihan strategis yang kompleks menjadi kerangka kerja yang mudah dipahami oleh semua level manajemen. Hal ini memfasilitasi komunikasi yang lebih baik di dalam organisasi saat membahas arah masa depan perusahaan.
Selain itu, matriks ini memaksa perusahaan untuk selalu berpikir tentang risiko. Dengan mengaitkan pertumbuhan dengan kebaruan produk dan pasar, manajer diingatkan bahwa setiap langkah ekspansi memiliki konsekuensi yang berbeda terhadap stabilitas perusahaan. Ini adalah alat yang luar biasa untuk membangun disiplin dalam pengambilan keputusan strategis.
Keterbatasan Model Ansoff
Meskipun sangat berguna, matriks ini memiliki keterbatasan karena sifatnya yang terlalu sederhana. Model ini hanya berfokus pada produk dan pasar, namun seringkali mengabaikan faktor eksternal penting lainnya seperti tindakan pesaing, perubahan regulasi pemerintah, atau fluktuasi ekonomi makro.
Selain itu, matriks ini tidak memberikan panduan tentang “bagaimana” cara mengeksekusi strategi tersebut secara detail. Ia hanya menunjukkan “apa” pilihannya. Oleh karena itu, penggunaan Ansoff Matrix harus didampingi oleh alat analisis lain seperti Analisis SWOT atau PESTEL untuk mendapatkan pandangan yang lebih komprehensif tentang lingkungan bisnis.
Cara Mengatasi Kelemahan Model
Untuk mengatasi keterbatasannya, para ahli menyarankan agar matriks ini digunakan secara dinamis. Jangan hanya melihatnya sebagai gambar statis, tetapi sebagai proses evaluasi yang berkelanjutan. Perusahaan harus menggabungkan wawasan dari matriks ini dengan data real-time dari pasar.
Libatkan berbagai departemen dalam proses pengisian matriks, mulai dari tim pemasaran hingga operasional. Dengan perspektif yang beragam, keterbatasan model yang terlalu linear dapat ditutupi oleh pengalaman praktis dari berbagai fungsi bisnis. Selalu ingat bahwa matriks ini adalah alat bantu berpikir, bukan pengganti intuisi dan pengalaman manajerial.
Kesimpulan
Ansoff Matrix
yang diperkenalkan oleh Igor Ansoff tetap menjadi landasan penting dalam manajemen strategis modern. Dengan membagi strategi pertumbuhan ke dalam empat kuadran—penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk, dan diversifikasi—perusahaan diberikan peta jalan yang jelas untuk mengevaluasi peluang sekaligus memahami risiko yang menyertainya. Memahami kapan harus bertahan di pasar yang dikenal dan kapan harus berinovasi ke wilayah baru adalah kunci keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Dalam penerapannya, penting untuk diingat bahwa tidak ada satu strategi yang benar secara absolut. Pilihan terbaik sangat bergantung pada sumber daya perusahaan, kondisi pasar, dan tingkat toleransi terhadap risiko. Gunakan model ini sebagai kerangka kerja awal untuk memicu diskusi strategis, namun pastikan untuk melengkapinya dengan riset pasar yang mendalam dan eksekusi yang disiplin. Pertumbuhan yang sukses adalah hasil dari keseimbangan antara ambisi ekspansi dan kehati-hatian dalam manajemen risiko.
Sebagai tips praktis, mulailah dengan memaksimalkan potensi di kuadran penetrasi pasar sebelum melompat ke strategi yang lebih berisiko seperti diversifikasi. Pastikan setiap langkah pertumbuhan didukung oleh kompetensi inti yang kuat. Dengan pendekatan yang sistematis dan terukur, visi pertumbuhan yang Anda rencanakan bukan lagi sekadar impian, melainkan tujuan yang dapat dicapai secara nyata.
FAQ
Pengembangan pasar fokus pada mencari pelanggan baru untuk produk yang sudah ada, misalnya dengan membuka cabang di kota lain. Sedangkan pengembangan produk fokus pada menciptakan produk baru untuk pelanggan yang sudah ada, misalnya merek kopi yang mulai menjual mesin pembuat kopi kepada pelanggannya.
Karena dalam diversifikasi, perusahaan bergerak ke arah yang sama sekali baru, baik dari segi produk maupun pasar. Perusahaan tidak memiliki pengalaman sebelumnya di bidang tersebut, sehingga potensi kesalahan dalam operasional, pemasaran, dan pemahaman kebutuhan pelanggan menjadi sangat besar.
Tentu saja. Matriks ini sangat berguna bagi bisnis kecil untuk memutuskan langkah selanjutnya. Misalnya, sebuah toko roti kecil dapat menggunakan matriks ini untuk memutuskan apakah mereka harus menambah jenis roti baru (pengembangan produk) atau mulai melayani pesanan antar ke wilayah tetangga (pengembangan pasar).
Igor Ansoff adalah seorang profesor dan konsultan bisnis yang dikenal sebagai "Bapak Manajemen Strategis". Ia adalah orang yang pertama kali menekankan pentingnya perencanaan strategis bagi perusahaan untuk menghadapi perubahan lingkungan bisnis yang cepat dan tidak menentu.
Waktu yang tepat adalah ketika pertumbuhan di pasar saat ini mulai melambat atau biaya untuk mendapatkan satu pelanggan baru sudah terlalu mahal (titik jenuh). Jika margin keuntungan mulai menipis karena persaingan harga yang terlalu ketat, itu adalah sinyal kuat untuk mulai mempertimbangkan pengembangan pasar atau pengembangan produk.


